Dari TKA hingga Nasib Bahasa Daerah: Ini 3 Isu Pendidikan yang Sedang Disorot

 

Ilustrasi pelaksanaan TKA SMA

JAKARTA – Sejumlah isu menarik mewarnai dunia pendidikan Indonesia pada pekan 19–25 Oktober 2026. Mulai dari pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA), pencairan tunjangan profesi guru, hingga upaya menjaga kelestarian bahasa daerah. Berikut tiga kabar pendidikan yang penting diketahui guru, orang tua, dan masyarakat.

1. TKA SMA/SMK 2026 Dimulai 26 Oktober, Jutaan Siswa Bersiap!

Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SMA/MA/SMK dan sederajat dijadwalkan mulai 26 Oktober 2026. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memastikan kesiapan sistem, data peserta, dan pengawasan agar pelaksanaan berjalan tertib dan adil.

Hingga 23 Oktober 2026, tercatat sebanyak 3.864.195 peserta telah mendaftar, atau sekitar 91,72 persen dari total calon peserta yang tercatat.

Pelaksanaan dibagi dalam beberapa gelombang. Gelombang pertama berlangsung pada 26–29 Oktober, sedangkan gelombang kedua dijadwalkan pada 2–5 November 2026.

Pemerintah juga memperhatikan kondisi sekolah di daerah terdampak bencana. Sekolah yang belum aman tidak dipaksakan mengikuti jadwal utama, sehingga keselamatan siswa dan guru tetap menjadi prioritas.

Apa yang perlu dilakukan siswa? Persiapkan diri dengan belajar secara teratur, memahami petunjuk ujian, dan beristirahat cukup agar dapat mengikuti TKA dengan tenang dan percaya diri.

Sumber: Kemendikdasmen.

2. Tunjangan Profesi Guru Non-ASN Sudah 75 Persen Tersalurkan, Bagaimana dengan Sisanya?

Ilustrasi Pencairan TPG

Kabar yang dinantikan para pendidik datang dari penyaluran Tunjangan Profesi Guru (TPG). Pada 22 Oktober 2026, Kemendikdasmen menyampaikan bahwa penyaluran TPG bagi guru non-ASN telah mencapai sekitar 75 persen berdasarkan rekap sementara.

Pencairan dilakukan secara bertahap, dengan periode pembayaran yang beragam, mulai dari tunjangan bulan Juli hingga Oktober. Bagi guru ASN maupun non-ASN yang datanya telah dinyatakan valid, penyaluran dilanjutkan sesuai proses yang berlaku.

Pemerintah menargetkan penyaluran bagi data yang valid berlanjut hingga akhir Oktober 2026.

Lantas, bagaimana jika tunjangan belum diterima? Guru dapat mengecek perkembangan pencairan secara berkala. Jika hingga akhir Oktober belum menerima pembayaran meskipun datanya valid, guru dapat menghubungi layanan resmi Kemendikdasmen melalui ULT Kemendikdasmen atau telepon 177.

Informasi ini menjadi pengingat bagi para guru untuk memastikan data administrasi tetap benar dan mengikuti informasi resmi mengenai penyaluran tunjangan.

Sumber: ANTARA News, 22 Oktober 2026.

3. Sebanyak 120 Bahasa Daerah Direvitalisasi, Apakah Bahasa Ibu Kita Aman?

Ilustrasi revitalisasi bahasa ibu

Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan kebiasaan generasi muda, keberlangsungan bahasa daerah menjadi perhatian penting. Kongres Bahasa Daerah 2026 yang berlangsung di Jayapura, Papua, menegaskan perlunya kerja sama pemerintah, sekolah, keluarga, dan masyarakat untuk menjaga bahasa daerah agar tetap digunakan lintas generasi.

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikdasmen telah menjalankan program Revitalisasi Bahasa Daerah sejak 2022. Hingga 2026, program tersebut telah mencakup 120 bahasa daerah.

Angka ini menunjukkan besarnya upaya pelestarian bahasa di Indonesia. Namun, tantangannya bukan hanya mendokumentasikan bahasa, melainkan memastikan anak-anak dan generasi muda tetap mau menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari.

Sekolah memiliki peran penting dalam upaya tersebut. Pembelajaran muatan lokal, cerita rakyat, pantun daerah, permainan tradisional, dan percakapan sehari-hari dapat menjadi cara menyenangkan untuk mengenalkan bahasa daerah kepada siswa.

Misalnya, di Kalimantan Selatan, pembelajaran Bahasa Banjar dapat menjadi sarana bagi anak-anak untuk mengenal kosakata, tradisi, dan nilai budaya masyarakat Banjar.

Bahasa daerah bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga bagian dari identitas dan warisan budaya bangsa. Jika tidak diwariskan kepada generasi berikutnya, kekayaan tersebut berisiko semakin jarang digunakan.

Sumber: Badan Bahasa Kemendikdasmen, 21 Oktober 2026.

Penutup

Tiga isu tersebut memperlihatkan bahwa dunia pendidikan tidak hanya berbicara tentang ujian dan pencapaian akademik. Kesejahteraan guru serta pelestarian bahasa dan budaya daerah juga menjadi bagian penting dalam membangun pendidikan yang lebih baik.

Guru, orang tua, dan masyarakat dapat berkontribusi sesuai perannya masing-masing, mulai dari mendukung kesiapan belajar siswa, mengikuti informasi resmi mengenai tunjangan, hingga membiasakan anak mengenal bahasa daerah.

Menurut Anda, isu mana yang paling penting untuk mendapat perhatian lebih besar: pelaksanaan TKA, kesejahteraan guru, atau pelestarian bahasa daerah? Silakan sampaikan pendapat Anda di kolom komentar.

Komentar